Di saat perut mereka kosong melilit, mereka bukannya mencari tempat teduh untuk tidur siang, tapi malah menyeberangi selat sempit untuk membuka gerbang Islam ke daratan Eropa.
Al – Matlab Media — Pernah nggak sih, pas lagi jam-jam kritis di kelas atau saat jadwal KBM lagi padat-padatnya, kita merasa kalau puasa itu semacam beban yang bikin badan pengen nempel terus sama lantai asrama? Rasanya maklum saja kalau kita lemas, toh sedang puasa. Tapi jujur, anggapan itu bakal langsung runtuh kalau kita coba menengok balik ke tahun 92 Hijriah.
Di tahun itu, ada sebuah peristiwa yang benar-benar “di luar nalar” buat ukuran orang yang sedang lapar: Penaklukan Andalusia. Adalah Thariq bin Ziyad. Beliau merupakan panglima perang Islam terkemuka dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan Al-Andalus (Spanyol dan Portugal) pada tahun 711 M. Berasal dari suku Berber, ia dikenal sebagai jenderal yang tangguh dan cerdas, yang membakar kapal-kapalnya untuk memastikan pasukannya bertempur habis-habisan.
Coba kita bayangkan berada di posisi Thariq bin Ziyad dan pasukannya kala itu. Di saat perut mereka kosong melilit, mereka bukannya mencari tempat teduh untuk tidur siang, tapi malah menyeberangi selat sempit untuk membuka gerbang Islam ke daratan Eropa. Lawannya pun tidak main-main—pasukan Raja Roderick yang jumlahnya jauh lebih banyak dengan persenjataan lengkap. Menariknya, mereka justru terlihat makin garang saat Ramadhan. Strategi perang mereka susun di sela-sela zikir, dan keberaniannya mereka jemput lewat doa-doa di waktu sahur. Ada satu momen yang sangat ikonik, yaitu ketika Thariq memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal mereka sendiri sesaat setelah mendarat. Beliau berseru, “Lautan ada di belakang kalian, dan musuh ada di depan kalian. Tidak ada jalan pulang kecuali dengan kemenangan!” Itu nekat? Banget. Tapi itulah level totalitas yang lahir dari puasa yang benar.
Baca Juga – Ramadhan 1447 H: Kesempatan Menata Diri Kembali
Memetik Hikmah
Sekarang, coba kita mengambil ibrah (hikmah) dari cerita agung itu ke kehidupan kita sebagai santri di pondok pesantren Matlabus Salik. Memang kita tidak sedang memegang pedang, tapi kita semua punya “Andalusia” versi kita masing-masing. Menaklukkan rasa malas dan ego pribadi adalah perjuangan nyata kita di sini.
Kalau pejuang terdahulu mampu menaklukkan sebuah wilayah luas dalam keadaan berpuasa, mestikah kita merasa berat hanya untuk tetap fokus mengasah kemampuan bahasa, menyelesaikan target hafalan, atau disiplin mengikuti ritme KBM di pesantren? Apakah kita akan menyerah begitu saja pada rasa kantuk saat agenda pengajian sedang berlangsung?
Ramadan di tahun 92 Hijriah itu adalah salah satu pengingat keras bagi kita semua sebagai santri: sejarah besar tidak pernah lahir dari jiwa-jiwa yang hanya ingin rebahan. Jadi, saat nanti badan mulai terasa lemas, ingatlah kembali perjuangan Thariq bin Ziyad. Kita ini pewaris semangat “penakluk” itu. Jangan sampai semangat kita justru kalah sebelum “kapal” malas kita sempat kita bakar sendiri.(Irvan)
Di saat perut mereka kosong melilit, mereka bukannya mencari tempat teduh untuk tidur siang, tapi malah menyeberangi selat sempit untuk membuka gerbang Islam ke daratan Eropa.
0 Komentar