Makna Pondok Pesantren Matlabus Salik

     Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق) yang berarti penginapan, ruang tidur, asrama atau wisma sederhana, Pesantren berasal dari kata santri yang mana ada tambahan awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ pe-santri-an, karena pondok pesantren memang sebagai tempat penampungan sederhana dari para pelajar/santri yang jauh dari tempat asalnya. Dan kata “santri” berasal dari kata Insan dan tri.

     Yang mana pengertian Insan adalah seseorang yang telah sadar dimana kesadaran ini muncul karena akal yang diberikan Allah digunakan untuk bertafakur Billah dan menjadi Baitul Ma’mur membangkitkan kesadaran sosok hamba Allah yang al-faqier yaitu hamba yang hina, nista, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, bahkan tidak ada apa-apanya, yang paling banyak sendiri dosanya setiap hari hanya menambah salah dan dosa sehingga sadar sebagai hambaNya, dan membangkitkan rasa hatinya butuh mengenaliNya, ampunanNya, belas kasih sayangNya, pertolonganNya, berjumpa denganNya, lengket denganNya, dan butuh Syafa’at Rasul Utusan-Nya. Disebutkan dalam Al Qur’an Surat Fatir ayat 15 : “Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah, sesungguhnya Allah, Dia-lah Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Dan hanya Insan inilah yang dapat mengamalkan 3 hal penting yaitu:

  1. Iman, Islam dan Ihsan
  2. Ilmu, Amal dan Taqwa
  3. Al-Kitab, Al-Hikmah dan An-Nubuwah
  4. Qur’an, Jama’ah dan Nubuwah
  5. Hati nurani, ruh, dan rasa

     Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan Allah dan mahluk ciptaanNya dibawah bimbingan Kyai.

     Sedangkan “Matlabus Salik” terdiri dari dua kata bahasa arab yakni matlabun dan salik. Kata Matlabun satu akar kata dengan ” طلب – يطلب ” yang memiliki makna mencari dan meminta. Kata مَطْلَبٌ  merupakan isim makan yang menunjukan tempat mencari, menimba dan menuntut ilmu mereka-mereka yang salik ( سَالِكٌ ).

“سَالِكٌ” berasal dari سَلَكَ يَسْلُكُ  (سَالِكٌ) isim fa’il mengandung makna orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh menjalani disiplin ilmu spiritual islam agar modal yang dipinjami oleh Allah dapat berfungsi sesuai kehendakNya, yaitu Jasad berjalan pada Syari’at, Hati Nurani pada Tarekat,  Ruh pada Hakekat dan Rasa Ma’rifat Billah  guna memenuhi perintahNya, dalam Al Qur’an Surat al Baqarah ayat 208 :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ج إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 208). *