Kunci dari strategi ini ada pada pengaturan waktu yang tepat agar dapat berjalan maksimal. Pendekatan ini membuat puasa tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh

Al-Matlab Media — Bulan Ramadan sering kali dijadikan alasan untuk menghentikan rutinitas olahraga. Alasannya karena khawatir akan rasa lemas, dehidrasi, atau pingsan karena sedang berpuasa. Yang akhirnya, beberapa orang justru memilih break dari aktivitas olahraga dan beralih ke kegiatan yang santai nan ringan, termasuk rebahan. Berbicara tentang itu, Ramadhan sering menghadirkan diskusi menarik tentang bagaimana membagi waktu antara rebahan untuk menjaga stamina dan berolahraga agar tubuh tetap aktif.

Berbicara tentang tidur di bulan puasa, sebenarnya, menjadi kurang baik apabila dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Perubahan pada zat kimia otak menjadi salah satu alasan mengapa tidur berlebihan justru dapat memicu sakit kepala dan rasa lemas. Ketika ritmenya berubah, otak tidak langsung beralih ke kondisi siaga meskipun tubuh sudah bangun. Akibatnya, kepala terasa berat, tubuh kurang bertenaga, dan muncul sensasi tidak segar yang sering disalahartikan sebagai kurang istirahat. Ironisnya, bukan karena tidur yang kurang, melainkan karena tidur yang berlebihan.

Namun, apabila aktivitas yang dilakukan justru tergolong berat—seolah menjalani latihan fisik layaknya seleksi militer— seperti angkat beban, olahraga, dll. yang terjadi justru tubuh merasa berat dan khawatir tidak kuat berpuasa hingga Maghrib berkumandang.

Nah, lalu bagaimana cara membagi porsi antara istirahat dan olahraga agar tubuh tetap bugar selama Ramadhan? caranya simpel: jangan memilih salah satu, tetapi lakukan keduanya dengan porsi yang seimbang. Tubuh memang membutuhkan ‘rebahan’ untuk mengisi ulang energi, tetapi tetap perlu bergerak agar metabolisme tidak “tertidur” dan badan tidak terasa kaku.

Sebenarnya, kunci dari strategi ini ada pada pengaturan waktu yang tepat agar dapat berjalan maksimal. Kala matahari tepat diatas kepala, sekitar jam 1 – jam 2 siang, adalah waktu yang paling tepat untuk bersantai atau tidur singkat selama ± 20 menit. Walau sebentar, tidur siang ini terbukti efektif untuk mengusir rasa kantuk tanpa membuat tubuh lemas atau loyo.

Lalu di sore hari ketika masuk waktu ngabuburit, sekitar 30 – 60 menit sebelum magrib, barulah kemudian beri “kejutan” ringan pada tubuh. Banyak olahraga ringan yang bisa dilakukan. Seperti jalan santai, jogging, atau bersepeda keliling komplek. Dengan menerapkan strategi ini, kebutuhan istirahat tetap terpenuhi, sementara aktivitas olahraga pun tetap terlaksana. Selain itu, dahaga dan rasa lelah yang muncul dapat segera terbayar ketika azan Magrib berkumandang.

Akhirnya, untuk kalian yang ingin tetap produktif di bulan puasa dengan tidak kehilangan waktu istirahat, pola “rebahan strategis + olahraga tipis-tipis” ini adalah salah satu cara yang efektif dan praktis bagi banyak kalangan. Baik bagi santri yang menempuh pendidikan di pesantren, gen Z, maupun pekerja kantoran. Pendekatan ini membuat puasa tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh. Juga yang tak kalah penting adalah jangan lupa imbangi dengan minum air putih yang cukup waktu sahur dan berbuka menggunakan pola 2 – 4 – 2. Dua gelas di kala berbuka empat gelas di malam hari, dan 2 gelas ketika sahur. Kalau badan bugar dan hati senang, ibadah pun menjadi maksimal tanpa drama lemas berkepanjangan. Gas terus puasanya, tetap aktif, dan jangan lupa kasih jatah istirahat yang cukup buat badan. (Baswedan)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *