Visi & Cita-Cita
Pondok Pesantren Matlabus Salik
‘MEMANCARKAN PENDIDIKAN ISLAM SERTA MEMPERSIAPKAN KADER ISLAM ‘ARIF BILLAH DENGAN MENGELUARKAN SEBANYAK-BANYAKNYA ORANG YANG CAKAP SERTA TINGGI KEPAHAMANNYA TENTANG AGAMA ISLAM, RAJIN BERBAKTI DAN BERAMAL KEPADA MASYARAKAT BERDASARKAN TAQWA KEPADA ALLAH, SEHINGGA MENJADI ANGGOTA MASYARAKAT YANG BERILMU, BERAMAL DAN BERTAKWA”.
Pada dasarnya cita-cita ini adalah tidak hanya untuk pondok pesantren atau santri formal saja, akan tetapi cita-cita ini bagi semua orang yang meniatkan hidup dan kehidupannya untuk berjalan diatas jalan Shirathal Mustaqim-Nya (Assalik) hingga dapat selamat bertemu lagi dengan Diri-Nya Dzat yang Mutlaq Wujud-Nya.
Maksud dari memancarkan disini adalah, bagaimana agar supaya Hati Nurani Ruh dan Rasanya dapat memancarkan cahaya terpujiNya Dzat wajibul Wujud yang Allah Asma-Nya dengan berbinar-binar. Maka selama menjalani kehidupan ini yang hakikatnya adalah ujian bagi setiap umat manusia, maka harus berani mendidik dirinya sendiri dengan pendidikan Islam sejati, dididik dengan Ilmu Syathariyah, dididik dengan Ilmu Nubuwah, dididik dengan ajaran Rasul Utusan-Nya yang selalu mengada ditengah-tengah umatnya, dididik dengan ajaran selamatnya mati, sehingga sewaktu-waktu mati dengan wajah yang bersinar-sinar karena melihat pada wajah Tuhannya yang berpendar-pendar.
Firman Allah Qur’an surat Al-Qiyamah ayat 22-23 :
وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Maksudnya, Dijadikan hamba yang dihari matinya itu saking bahagianya karena dapat selamat, hingga wajahnya (rasa jiwanya) berseri-seri (bercahaya), karena kepada Tuhannya melihat.
Yang paling utama mendidik disini adalah bagi para pendidik itu sendiri, yang mana sambil mendidik orang lain untuk menambah lakon dan pitukonnya sendiri, tidak boleh luput dari si pendidik untuk mendidik dirinya sendiri, karena betapapun luhurnya cita-cita, sucinya tujuan, lengkapnya argumentasi, hanya akan menjadi fatamorgana dan sia-sia apabila hal yang penting dan menentukan tidak dijalani yaitu PENDIDIKAN, sehingga sadar dengan sepenuh hati bahwasanya baik pendidik maupun yang dididik sama-sama sebagai santri, dan tidak selesai ketika pendidikan formal sudah usai dijalani yang ditandai dengan ijasah, akan tetapi berusaha dengan sungguh-sungguh memenuhi perintah Nabi Muhammad SAW yang disebutkan dalam haditsnya :
أُطْلُبُوْا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
Artinya : “Carilah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat.”
Kader Islam ‘Arif Billah adalah kader yang seyakinnya mengenal dan mengetahui DiriNya Ilaahi. untuk itu proses pendidikan yang ditekankan adalah pembangunan akhlak alkarimah/karakter/mental/moral seorang hamba yang (Sholeh/Sholekhah), penerapan kedisiplinan, tahu waktu, kemandirian, hidup sederhana, berkepudilian, memelihara semangat belajar, berjama’ah dalam setiap mengerjakan shalat fardu 5 waktu dan latihan Mujahadah (qiyamul lail), belajar malek watek, pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits beserta makna-makna muliya yang terkandung didalamnya, ihklas, syukur, dasar taubat, dasar zuhud, dasar uzlah, dasar qanna’ah, dasar tawakkal ‘Alallah, dasar sabar. Tidak mengejar angka-angka ataupun ijazah karena bentuk ujiannya lebih ditekankan kepada menjalani ujian hidup sehari-hari.
Insan adalah seseorang yang telah sadar dimana kesadaran ini muncul karena akal yang diberikan Allah digunakan untuk bertafakur dan menjadi baitul ma’mur membangkitkan kesadaran sosok hamba Allah yang al-faqier yaitu hamba yang hina, nista, tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, bahkan tidak ada apa-apanya, yang paling banyak sendiri dosanya setiap hari hanya menambah salah dan dosa sehingga sadar sebagai hambaNya, dan membangkitkan Rasa Hatinya butuh mengenaliNya, ampunanNya, belas kasih sayangNya, pertolonganNya, berjumpa denganNya, lengket denganNya, dan butuh Syafa’at Rasul Utusan-Nya.
Rabbani adalah hamba Allah yang sempurna Ilmu dan Taqwanya, sempurnanya ilmu karena telah mengetahui diriNya Dzat wajibul wujud yang maha sempurna, dan berusaha dengan sungguh-sungguh mengamalkan dan memanfaatkan Ilmunya, dengan cara terus menerus memberitahukan aibnya diri sendiri (wujudnya diaku wujud), cinta terhadap dunia (cinta selain kepada Diri Ilahi) dan bencananya amal baik bagaikan api membakar kayu kering (takabur, sum’ah, riya’ dan ujub). Adapun Taqwa adalah Bersungguh-sungguh, melatih dan mendidik diri sendiri bagaimana agar setiap masuknya nafas kedalam dada dibarengi dengan Dzikir, ingatnya hati kepada Dzat yang Allah Nama-Nya dengan benar dan ikhlas.
Sehingga dengan belas kasih sayang Allah serta Syafa’at Rasul Utusan-Nya dapat mengeluarkan sebanyak-banyaknya orang yang cakap, ukril dan luas, serta tinggi kepahamanya tentang Agama islam, karena selama proses pendidikan dididikan pengetahuan umum, alam, sosial, agama serta berbagai vocasional skill (dengan berbagai pelatihan kerja dan ketrampilan, serta pelaksanaan proses belajar mengajar) supaya dapat menyerap dan mengaktualisasikan hidup berdikari (tingkah laku dan perbuatan serta gerak dan gerik yang tidak diperintah oleh nafsu, tetapi didalam siliring qudratullah); memiliki rasa jiwa yang merdeka sejati yaitu Menggantungkan diri kepada lain orang dijauhi benar-benar, ingatlah: “Yadu’lulya aula minalyadi ssufla” artinya: “tangan yang diatas itu lebih mulia dari tangan yang di bawah”. Tegasnya: “memberi itu lebih mulia dari pada meminta”. Mengoptimalkan potensi pikirnya, kreativitasnya, dalam rangka mengelola garapan dunia yang Allah cipta tidak sia-sia untuk Me-mahasucikan-Nya. Tidak hanya kecerdasan otak saja yang diasah dengan berbagai pengetahuan dan skill akan tetapi yang paling utama adalah kecerdasan batin seseorang, sehingga dapat menyadarkan kepada diri sendiri bahwasannya cerdas menurut Allah dan utusan-Nya itu hal yang terpenting yaitu orang yang telah dapat menundukan hawa Nafsu dan watak Akunya dan menyibukkan diri untuk keperluan-keperluan setelah matinya nanti.
Luas disini adalah hubungannya dengan sesama manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak dibatasi oleh SARA ataupun golongan dengan berbudi pekerti yang luhur, sopan santun, berakhlaq karimah bisa menempatkan diri dan tidak sukar dalam menjalani hidup dimana saja apapun kondisinya (ajur, ajer, cumbuh tan kenaning dapur), ringan tangan, tidak mudah putus asa, ulet, aktif, kreatif, dinamis, pekerja keras sehingga sangat berguna bagi masyarakat, lingkungan, bangsa dan Negara. Berusaha untuk mengamalkan sabda Utusan Allah SWT :
خَيْرُالنَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Artinya: “Sebaik-baik dari kamu adalah yang bermanfaat bagi orang lain dan yang paling baik Akhlaqnya.”
Tinggi kepahamanya tentang agama Islam karena selalu menyatu dengan Dzat yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Luhur yang tak seorangpun dapat menggapainya kalau tidak karena Fadhal dan Rahmat Allah SWT serta Syafa’at Utusan-Nya.
Rajin berbakti dan beramal kepada masyarakat berdasarkan Taqwa kepada Allah’ hamba yang demikian apabila benar-benar diridoi oleh Allah tidak hanya akan menjadi pencari kerja, akan tetapi akan menjadi orang yang dapat menciptakan lapangan kerja, orang-orang yang dapat menciptakan lapangan dakwah Islam. Karena kesadarannya berkata bahwa, segala pengorbanan yang diberikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain semata-mata demi membuktikan kebenaran kalimah nafi. Yaitu Laailaaha. Demi untuk memproses penafian. Nafinya wujud diri dan segala selain Diri Tuhannya. Hingga sirnalah semua hijab yang menutup mata hatinya untuk masuk ke dalam kebenaran kalimah Itsbat. Yakni Illallah. Hingga nyata bahwa yang dirasa Wujud dan yang dirasa Ada hanyalah DiriNya Zat Al-Ghaib Yang Allah Asma-Nya. Ini adalah inti pengabdian yang sejati murni. Bersih dari segala macam pamrih lahir maupun batin, bangsa dunia maupun akhirat, ikhlas liwajhillah. Sehingga dijadikan oleh Allah sendiri menjadi anggota masyarakat yang berilmu, beramal dan bertaqwa. *