Pernah tidak, saat lagi capek-capeknya menahan haus dan lapar karena puasa seharian, lalu rasa lemas dan lelah itu seketika hilang waktu kamu menyodorkan sebungkus takjil ke orang lain? Padahal, jika dipikir menggunakan logika, seharusnya kita justru semakin lelah. Karena semakin banyak tenaga dan uang yang kita keluarkan. Tapi menariknya, yang terjadi justru muncul rasa bahagia dan kepuasan serta tubuh seakan menjadi segar lagi.

Ternyata, sensasi “nyess” di hati itu bukan sugesti semata, namun ada penjelasan ilmiahnya. Dunia psikologi mengenalnya sebagai Helper’s High. Mengutip Harian Di’sway, Istilah tersebut merujuk pada rasa bahagia dan ketenangan yang muncul setelah melakukan tindakan kebaikan. Otak kita punya sistem reward yang otomatis bekerja saat kita membantu orang lain, sekecil apapun. Penelitian dari University of Oregon sempat membuktikan lewat pemindaian otak. Itu membuktikan bahwa saat kita memberi secara tulus, bagian otak yang mengatur rasa puas menyala lebih terang dibandingkan saat menerima hadiah. Jadi, saat tanganmu bergerak berbagi, sebenarnya otakmu lagi “mentraktir” dirimu sendiri dengan dosis kebahagiaan alami.

Belum lagi soal hormon oksitosin yang ikut muncul. Hormon yang sering dijuluki “hormon kasih sayang” ini melonjak lewat interaksi sederhana. Seperti kontak mata atau sekadar senyum tulus dari orang yang menerima takjilmu. Efeknya luar biasa. Oksitosin ini bekerja sebagai “satpam” yang menurunkan kadar kortisol atau hormon stres. Tidak heran, setelah berbagi takjil, beban pikiran yang tadinya menumpuk gara-gara kerjaan terasa jadi jauh lebih ringan.

Menariknya, jurnal Health Psychology mengungkapkan fakta kesehatan yang cukup mengejutkan. Orang yang rutin melakukan aktivitas sosial seperti berbagi takjil, ternyata memiliki tekanan darah yang lebih stabil dan jantung yang lebih sehat. Artinya, berbagi takjil bukan hanya soal mengenyangkan perut orang lain, tapi juga menjadi ‘olahraga’ ringan yang membuat jantungmu lebih tenang dan tidak mudah burnout.

Di dunia yang semakin sibuk dan sering membuat kita merasa sendirian, momen berbagi takjil ini sebenarnya menjadi “jembatan” kita dengan realitas hidup. Ia menjadi pengingat bahwa kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Juga, kegiatan ini meningkatkan sense of belonging yang penting sekali untuk menjaga mental kita tetap waras di tengah tekanan hidup.

Jadi, bisa dikatakan bahwa berbagi takjil itu adalah self-care atau cara merawat diri yang paling jujur. Kita tidak hanya menjadi sebab kebahagiaan orang lain lewat takjil yang kita bagi, namun juga memberi “nutrisi” untuk jiwa kita agar tetap merasa berharga. Mungkin itu sebabnya, tangan yang di atas selalu terasa lebih ringan; bukan karena nggak punya beban, tapi karena ia punya cadangan energi yang terus terisi ulang lewat kebahagiaan yang ia bagikan.

Sudah siap bikin hari ini jadi lebih manis? Percayalah, kebahagiaan yang bakal kamu rasakan nanti punya efek yang jauh lebih segar daripada segelas es sirup manapun.(Irvan)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *