Al – Matlab Media — Pendidikan di Indonesia hari ini tidak sepenuhnya berbicara tentang pembentukan karakter siswa, melainkan capaian akademik. Mayoritas para pelajar menempuh pendidikan dengan bayang-bayang tujuan yang harus mereka capai dalam hidup mereka, yakni akademik. Mulai dari berangkat sekolah di pagi hari, dilanjutkan dengan ekstra dan kegiatan kursus tambahan seperti matematika dan bahasa  inggris. Atau biasanya mengikuti bimbingan yang disediakan oleh guru mereka saat menjelang ujian sekolah. Tak berhenti disitu, malam harinya mereka lanjutkan dengan mengerjakan latihan-latihan soal dari buku lembar kerja siswa (LKS) buku bank soal, bagaimana dengan PR? Tenang pr biasanya udah dibahas saat waktu les bersama guru mereka.

“Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, itu adalah semboyan pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Semboyan tersebut menekankan dan bermakna bahwa pendidikan bukan hanya sekedar proses transfer ilmu, melainkan juga membentuk secara utuh karakter siswa dimana keteladanan, pembinaan, dan dorongan moral menjadi hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran.

Kita mempunyai semboyan pendidikan, sebuah prinsip yang menjadi landasan kita untuk menjalankan proses pendidikan di negara Indonesia. Nahas, prinsip itu hanya bertahan di logo kemendikdasmen saja. Konsep kemerdekaan belajar yang dicetus oleh bapak pendidikan Indonesia yang menyatakan bahwa siswa itu bukan objek tapi subjek dan guru itu membimbing bukan memaksa, nampaknya tidak tampil di kebanyakan sekolah. Padahal karakter dan sikap adalah aset yang penting dalam bermasyarakat yang baik.

Memang benar, di tengah persaingan global yang semakin ketat, kemampuan intelektual dan penguasaan ilmu pengetehuan menjadi sebuah kewajiban, tapi itu bukan berarti pembentukan karakter siswa tidak terlepas dari proses pendidikan di sekolah. Bukan hanya memaksa fokus pada akademik dan membuat gambaran sekolah bagaikan tempat persiapan medan tempur yang mana anak di paksa untuk berlatih memakai senjata berbahaya. Sekolah seharusnya menjadi tempat mereka bereksplorasi, dengan guru sebagai pemandu dalam eksplorasinya, seperti yang diinginkan oleh bapak Ki Hadjar Dewantara yakni merdeka belajar.

Dan hari ini, pada hari pendidikan nasional yang kita peringati pada tanggal 2 Mei di setiap tahunnya harus dijadikan sebagai pengingat bahwa kita mempunyai pendirian atau prinsip pendidikan kita sendiri, kita harus perlahan mengubah dinamika pendidikan dan sudut pandang tentang apa itu pendidikan di tanah air kita, yang mana sejatinya pendidikan itu juga meliputi pembentukan karakter dan sikap peserta didik. Dengannya kita bisa mencetak generasi generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual yang tinggi tetapi juga berkarakter nan berkualitas.

(Maulana Hadrian, 3pa)

Kategori: Guide

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *