Al-Maltab Media — Hidup sebagai santri di pesantren memang dipenuhi berbagai aktivitas yang terjadwal dan terstruktur sepanjang hari. Dari bangun di waktu subuh, mengaji, KBM Formal, hafalan, hingga kegiatan belajar malam. Terkadang ada momen di mana mood kita lagi bagus-bagusnya: fokus terjaga, otak mudah untuk hafalan, bahkan ide dan gagasan muncul tiba-tiba. Tapi di lain hari, terkadang hidup rasanya berat banget.

Nah, ternyata dinamika tersebut bukan hanya perasaan kita semata. Ada sebuah teori yang menjelaskan secara rasional dalam disiplin ilmu neurosains. Neurosains merupakan ilmu yang mempelajari sel saraf dan membahas hubungan antara sistem saraf dengan proses belajar dan perilaku manusia.

Dalam neurosains, dijelaskan bahwa otak memang punya cara kerja tertentu yang dipengaruhi kebiasaan kita sehari-hari—termasuk belajar, istirahat, ibadah, bahkan puasa. Menariknya, banyak rutinitas sebagai santri yang ternyata cocok banget dengan cara kerja otak supaya tetap sehat dan fokus.

Penjelasan sederhananya: di dalam otak kita ada miliaran sel kecil yang namanya neuron. Mereka ini seperti jaringan komunikasi super cepat. Setiap kita membaca, mendengar penjelasan ustadz, atau menghafal, neuron-neuron itu saling mengirim “pesan”. Yang terjadi, jika otak sering dilatih untuk belajar dan mengulang hafalan, koneksi neuron di dalamnya jadi makin kuat. Itu sebabnya kenapa murajaah itu penting banget. Bukan sekedar tradisi di pesantren, tapi secara ilmiah juga memiliki dampak yang positif.

Pada dasarnya, otak manusia memang cenderung menyukai keteraturan dan ketenangan. Belajar teratur, konsisten untuk tidur yang cukup, dan perasaan nyaman ketika quality time. Itu semua membuat otak menjadi lebih gampang fokus. Tidak heran jika banyak santri merasa lebih nyaman ketika belajar di suasana pondok pesantren yang tertib.

Demikian juga, ketika sedang berpuasa. Banyak orang justru merasa otaknya jadi lebih fokus. Secara neurosains, hal ini terjadi karena setelah beberapa jam tanpa makan, tubuh mulai beradaptasi. Ia menyesuaikan penggunaan energi. Akhirnya, sebagian orang merasa bahwa pikirannya terasa lebih jernih, lebih tenang, dan ide juga lebih gampang muncul. Apalagi jika dibarengi dengan aktivitas ibadah seperti tadarus Al-Qur’an, sedekah, atau iktikaf.

Pada akhirnya, masing-masing pribadi akan menjalankan rutinitas kehidupannya. Demikian pula dalam kehidupan santri di pondok, bukan hanya tentang jadwal yang padat atau target hafalan yang banyak. Semua rutinitas itu, mulai bangun pagi, murajaah, belajar, hingga puasa, secara perlahan akan memproses dalam “melatih” otak dan karakter kita. Jadi, ketika suatu hari terasa berat atau mood tidak stabil, itu hal yang wajar. Otak juga butuh proses untuk beradaptasi dan tumbuh. Yang penting adalah konsistensi dan hindari malas ataupun putus asa bila menemui stuck. Karena justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus itulah membentuk fokus yang kuat dan ketahanan diri yang matang. (Fauzi)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *