Menjelang bulan suci, setiap hamba sering kali merasa tak pantas akibat tumpukan khilaf yang membebani jiwa. Puisi Ramadhan reflektif berjudul ‘Mengadu Rindu’ ini lahir dari perenungan mendalam tentang titik nadir seseorang yang sedang rapuh, namun tetap mencoba mencari jalan pulang untuk menjemput kerinduan spiritual di hadapan Sang Pencipta.
Mengadu Rindu
Diri ini berkali kali jatuh
Ia memang sedang rapuh
Pikiran pun turut berangsur keruh
Tiada tersisa jernih, suci hati sejalan menjauh
Entah kemana arah patuh kan kutempuh?
Pantaskah hamba sahaya mengeluh?
Layakkah sekali waktu mengadu sepenuh rindu?
Rindu ini menaja sirna
Ia perlahan seketika terhenti kentara
Betapa Aib dosa telah menggerogoti sampai palung rasa
Ramadhan datang…
Hadirnya menggugah Rindu yang sedari dulu mati sirru…
Dibalik lapar dahaga yang terpenjara..
KehendakNYA mendekapku rindu
Dalam hening hamba bersimpuh…
Rindu berserah
Rindu mengadu
Rindu haru dalam syukurku
Restu-NYA kembali menggajakku rindu
0 Komentar