Al – Matlab Media — Dalam tradisi masyarakat Indonesia, suara sirine atau pengumuman “Imsak!” dari pengeras suara masjid adalah alarm krusial. Seketika, meja makan yang tadinya tenang berubah jadi medan perang. Nasi satu piring berusaha dilenyapkan dalam tiga suapan, dan air minum satu galon rasanya mau dipindahkan ke lambung saat itu juga. Tapi, benarkah kita harus berhenti makan saat itu juga? Atau jangan-jangan kita semua cuma jadi korban “salah paham kolektif” selama berpuluh-puluh tahun?

Imsak: Bukan Larangan, Cuma “Warning”

Banyak dari kita yang menganggap kalau sirine imsak bunyi, berarti status mulut adalah locked. Haram kemasukan benda asing. Padahal, imsak itu ibarat lampu kuning di lampu merah. Fungsinya biar kamu nggak “ngerem mendadak” pas adzan subuh.

Secara bahasa, imsak memang artinya “menahan”. Tapi secara jadwal di kalender, itu cuma aba-aba biar kamu nggak keselek gara-gara makan kerupuk pas adzan berkumandang.

Adzan Subuh: Itu Baru “Game Over”

Al-Qur’an telah memberikan batasan yang sangat jelas mengenai kapan kita harus berhenti makan dan minum:

“...dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Baca JugaDear Lambung: Kita Break Dulu Ya, 14 Jam Aja….

Fajar Shadiq adalah cahaya putih yang melintang di ufuk timur yang menandai masuknya waktu Subuh. Jadi, secara hukum (fikih), batas akhir sahur adalah saat Adzan Subuh berkumandang. Jadi, ketika kamu lagi asyik ngunyah tempe, lalu dengar imsak. Tenang, Lanjutkan makannya, tapi jangan nambah nasi dua piring lagi. Fokus telan yang ada di mulut. Atau ketika kamu baru bangun pas imsak. Jangan panik, apalagi sampai memutuskan untuk nggak puasa. Kamu masih punya waktu sekitar 10 menit. Itu cukup buat minum air dan makan kurma, asal jangan malah masak mie instan.

Mengapa Ada Waktu Imsak?

Ulama kita itu baik banget. Mereka tahu kalau orang Indonesia kalau makan itu estetik: pakai ngobrol, pakai nyari kerupuk, pakai nambah sambal atau nasi. 10 menit jeda dari imsak ke subuh itu gunanya buat:

  • Pembersihan Diri: Memberi waktu bagi kita untuk menggosok gigi atau membersihkan sisa makanan di sela-sela gigi sebelum shalat. Biar nggak ada “harta karun” berupa selipan kangkung di gigi yang tertelan pas jam 10 pagi. (Kalau tertelan pas puasa, batal lho!)
  • Kesiapan Mental: Menghindari kondisi terburu-buru yang bisa menyebabkan kita ragu apakah saat suapan terakhir tadi adzan sudah berkumandang atau belum.
  • Sunnah Rasul: Rasulullah SAW terbiasa mengakhiri sahur mendekati waktu Subuh, namun memberikan jeda setara membaca 50 ayat Al-Qur’an sebelum shalat (yang kurang lebih setara dengan 10-15 menit).
Bijak Dalam Memanfaatkan Waktu

Kesimpulannya, kalau diibaratkan Imsak itu “Eh, bentar lagi ya!”, sedangkan Adzan Subuh itu “Stop! Angkat tangan!”.  Jadi, jika Anda bangun terlambat dan mendengar suara imsak, jangan panik dan jangan langsung menyerah untuk tidak berpuasa. Anda masih punya waktu sekitar 10 menit untuk minum dan makan secukupnya. Meskipun secara hukum masih boleh makan, ya jangan nantangin juga dengan makan mie sama telor pas sudah imsak. Kalau adzan keburu bunyi dan telor masih di mulut, repot urusannya!.(Rifqi)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *