Al-Matlab Media — Rasanya seperti baru kemarin kita merayakan Idulfitri. Namun kini, suasana menyambut Ramadhan 1447 H kembali hadir. Tanda-tandanya mulai terasa di mana-mana. Dari iklan sirup yang ramai menghiasi feed media sosial hingga berbagai promo belanja yang seolah mengajak kita terus menatap layar ponsel. Di balik semua keriuhan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan. Apakah Ramadhan tahun ini hanya akan kita jalani sebagai perubahan jadwal makan dan tidur semata?

Di zaman sekarang, tantangan berpuasa bukan lagi sekadar menahan lapar dan haus di bawah terik matahari. Tantangan terbesar justru sering berada di genggaman tangan kita sendiri. Kebiasaan scrolling layar tanpa henti, budayaflexing dan membandingkan hidup dengan orang lain, hingga larut dalam dunia digital tanpa sadar, kerap membuat hati kita lelah tanpa disadari. Ramadhan seharusnya menjadi momen yang tepat untuk melakukan semacam ‘detoks digital’—memberi jeda sejenak dari hiruk-pikuk dunia maya agar kita bisa kembali hadir sepenuhnya untuk diri sendiri, keluarga, dan tentu saja, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baca JugaDari Meja Makan ke Kesehatan Tubuh: Akibat Pola Makan yang Perlu Diperhatikan

Tantangan di Bulan Ramadhan

Fenomena lain yang sering membuat makna puasa terasa berkurang adalah budaya buka Bersama atau bukber yang terlalu menonjolkan sisi lahiriah. Berkumpul dan bersilaturahmi tentu merupakan hal yang baik dan menyenangkan. Namun, ketika kebersamaan hanya menjadi ajang pamer atau sekadar mencari konten, esensi Ramadhan perlahan bisa memudar. Ramadhan sejatinya mengajarkan kerendahan hati, bukan memperkuat keinginan untuk mendapatkan pengakuan. Jangan sampai kita sibuk memperindah apa yang tampak di luar, tetapi lupa menata apa yang sedang berantakan di dalam hati.

Ramadan 2026 dapat kita jadikan sebagai fase untuk kembali menjadi pribadi yang lebih jujur terhadap diri sendiri. Perubahan tidak harus berlangsung besar dan instan. Justru, perubahan yang paling bermakna sering lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten—belajar lebih sabar saat menghadapi keadaan yang tidak nyaman, atau berbuat baik dengan tulus tanpa keinginan untuk diketahui orang lain.

Pada akhirnya, keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari seberapa banyak momen yang kita unggah di media sosial. Ukurannya terletak pada ketenangan hati yang kita rasakan saat bulan suci ini berakhir. Semoga Ramadhan tahun ini tidak berlalu begitu saja, melainkan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup dalam sikap dan karakter kita, bahkan setelah Ramadan usai. (Baswedan)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *