Warung Brader di Kediri menjadi salah satu titik kumpul srawung untuk berinteraksi dengan sesama teman atau relasi. Alih-alih sebagai tempat obrolan kosong tanpa arah, yang terlihat justru anak-anak muda Gen Z tengah sibuk dengan laptop dan buku catatan juga sibuk berdiskusi. Nongkrongnya pun menjadi kolaborasi positif yang senantiasa menjaga attitude sebagai modal sosial terbaik.

Anak muda zaman sekarang, kalau nongkrong cuma buang–buang waktu sama ngabisin uang. Mungkin begitulah perspektif tanggapan orang tua melihat kebiasaan gen Z yang sangat hobi nongkrong. Namun, tanggapan strik orangtua mungkin akan terpatahkan seketika, saat memasuki dan melihat Warung Brader di Kediri sore itu. Alih-alih obrolan kosong tanpa arah, yang terlihat justru anak – anak muda gen Z yang tengah sibuk dengan laptop dan buku catatan juga sibuk berdiskusi.

Kata ‘srawung’ yang dulu seringkali didefinisikan orangtua kita sebagai kegiatan kumpul – kumpul warga di teras rumah, pos ronda hingga balai desa, ternyata tak pernah hilang tergerus waktu. Intinya tetap sama, menjalin kebersamaan. Bedanya, anak muda zaman sekarang mempunyai cara tersendiri untuk mendefinisikan kata ‘srawung.’  Mereka membawa kegiatan nongkrong di pos ronda naik tingkat ke warung kopi kekinian seperti Warung Brader.

Di sini, mereka berhasil menunjukkan bahwa nongkrongnya anak muda tidak selalu tanpa arah dan buang-buang waktu. Ada yang memanfaatkan meja warung kopi sebagai ruang diskusi kelompok untuk mengerjakan tugas, ada yang serius beradu pendapat untuk merancang sebuah rencana, hingga mereka yang tengah asyik melepas penat sembari mabar PlayStation dan bertukar cerita.

Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa dan mahasiswi PSDKU Brawijaya Kediri. Meskipun mereka semua datang dari asal daerah yang berbeda, fakultasnya juga berbeda, tapi di sini, di warung Brader mereka berkumpul bersama. “Iya, kami dari Universitas Brawijaya Kediri tapi kami semua beda fakultas, beda daerah juga. Cuman memang kita ada agenda rapat kumpul – kumpul seperti ini setiap 1 bulan 3 – 4 kali,” terang Hafis, salah satu pengunjung sekaligus mahasiswa UB Kediri yang sedang kumpul.

Ada sedikit pesan yang diwakili oleh mahasiswa UB Fakultas Hukum tersebut, “Kita sebagai generasi muda mungkin lebih senang kumpul di cafe, atau warung – warung yang kekinian, modern. Tapi dari situ kita juga tidak lupa dengan nilai – nilai yang sudah ada. Sudah seharusnya kita jaga nilai-nilai srawung itu.”

Suasana hangat ini membuktikan bahwa warung kopi telah bertransformasi menjadi ruang publik fleksibel, di mana produktivitas dan keseruan tetap bisa berjalan bersamaan tanpa kehilangan nilai esensi kebersamaan. Jadi, nggak ada lagi alasan untuk bilang kalau nongkrongnya anak muda pasti mengarah pada hal yang negatif. Selama suasananya positif dan tujuannya jelas, nongkrong adalah modal sosial terbaik untuk anak muda. (Lintang)

Kategori: Mading Wars XVIII

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *