Halloo Sobat Gen Z !! Selamat datang kembali di mading kami, Al Matlab Media dari Ponpes Matlabus Salik, Tanjunganom, Nganjuk !!
Tak terasa, tahun ini merupakan tahun ke 5 kami mengikuti kompetisi Mading Wars School Contest Radar Kediri. Di tahun ini kami hadir dengan satu hal yang berbeda nih, Sobat Gen Z..
Jika kita mengingat kembali tahun tahun sebelumnya, kami pernah mengangkat berbagai tema mading seperti Be Smart Gen Z di GenZverse, Perjalanan si Japar (Jajanan Pasar) di Time Traveller, Cerita Dibalik Secangkir Kopi di Beyond Creativity, Aksaraloka : Merajut Kata, Membaca Makna Budaya Batik di LiterAction dan tahun iniii.. kami akan mengangkat tema yang berbeda dari tahun tahun sebelumnya.
Nah pada kesempatan kali ini, kami akan memperkenalkan kembali sebuah tradisi dan budaya jawa kepada Generasi Z. Kami sengaja mengadaptasi filosofi ruang komunal tradisional masa lalu yang dipadukan dengan ruang kumpul modern sebagai tempat interaksi sosial. Mengapa demikian? Karena konsep ini mengangkat budaya srawung sebagai salah satu warisan luhur masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, karya mading ini kami beri judul “ Titik Kumpul. ” sebagai Ruang Srawung, Ruang Cerita.
Bicara soal titik kumpul, sebagian besar dari kita pasti punya hobi ngumpul-ngumpul, bukan?
Nah, kegiatan kumpul-kumpul yang sering kita lakukan ternyata punya akar budaya yang sangat dekat dengan kita, yaitu budaya srawung. Kenapa kami memilih tema srawung untuk mading ini? Karena saking dekatnya, budaya ini sudah mendarah daging dalam keseharian kita melalui interaksi-interaksi kecil, seperti ngobrol dengan teman, saling sapa dengan tetangga, hingga kerja bakti.
Namun, seiring berkembangnya zaman, srawung bukan sekedar interaksi tatap muka, melainkan telah bertransformasi ke dalam bentuk interaksi digital, seperti mabar, chatting, atau bertukar pendapat lewat kolom komentar. Ruang digital srawung pun juga beragam.
Di tengah transformasi itu, tantangan baru muncul dihadapan kita: ruang digital seringkali membuat interaksi terasa hampa, di mana orang lebih sibuk dengan kehidupan digital masing-masing alih-alih mempererat rasa kebersamaan. Seperti contoh, pernahkan kalian duduk melingkar tapi terasa kurang nyaman karena masing-masing sibuk dengan layer gawainya.
Oleh karena itu, sesuai dengan tema besar School Contest tahun ini, ‘Digital Roots, Local Soul’, mading ini kami jadikan sarana untuk merawat ‘local soul’ di tengah derasnya arus digitalisasi. Kami memadukan sentuhan estetika lokal pada kontruksi mading yang berupa replika taman kota yang menjadi titik kumpul srawung masyarakat, serta menampilkan rekam jejak transformasi srawung dari masa ke masa di bagian bawah mading.
Sementara itu, wujud pelestarian budaya srawung di media digital, kami hadirkan melalui QR code yang ada di mading ini. Lewat scan QR Code tersebut, pengunjung dapat mengakses ‘srawung digital’ berupa artikel web yang interaktif. Mengingat mading fisik memiliki ruang yang terbatas, sehingga di versi digital ini pembaca dapat menyelami lebih jauh berbagai tulisan dan cerita tentang srawung.
Dengan kata lain, mading fisik dan digital ini saling melengkapi: bentuk fisiknya memanjakan visual dan menghadirkan suasana hangat, sementara versi digitalnya menyediakan literasi yang mendalam lebih lengkap.
Namun sebelum itu, kami akan mengajak Sobat Gen Z untuk mengeksplorasi mading kami. Kami akan jelaskan satu persatu makna dibalik kontruksi mading ini
Di bagian bawah terdapat bagian alur transformasi berbentuk infografis yang menceritakan srawung masa ke masa
Pertama, terdapat lukisan tangan bergambar sawah, dan suasana pedasaan. Menggambarkan srawung di zaman dahulu masih sangat kental sekali dengabn budaya Masyarakat agraris. Masyarakat bergotong royong untuk bercocok tanam. Hal ini bisa dilihat dari salah satu ritual adat tradisional masyarakat Jawa yang dilakukan sebelum memulai masa panen padiyakni dengan tradisi wiwitan sebagai permohonan kepada Sang Maha Kuasa untuk tanamannya. Dilanjut dengan tradisi mayoran, yakni tradisi makan bersama – sama dalam satu wadah besar. Yang mana beberapa wilayah Jawa, seperti Desa Keling, Kab. Kediri masih merawat tradisi tersebut hingga sekarang.
Kedua, masa transisi, dimana di masa ini srawung sedikit berpindah ke ruang–ruang ‘cangkruk’ (berkumpul), seperti pos ronda, warung dan lain sebagainya.
Ketiga, ada masa digital. Di masa ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia telah masuk ruang dan teknologi digital. Seperti mulai adanya warnet, kirim pesan via SMS, PS dan sebagainya.
Keempat, dan yang terakhir, atau dimasa sekarang adalah srawung di dunia maya / metaverse yang mana bisa kita lihat fenomena ini pada zaman sekarang. Sebagian masyakat Indonesia bahkan satu dunia ini tertarik dan nyaman untuk srawung di dunia maya. Seperti adanya grup di berbagai platform digital, berbalas komentar, live streaming dan sebagainya.
Lalu naik ke bagian atas terdapat 2 elemen yakni pohon dan replika alun-alun
Pohon, sebagai simbol titik kumpul dan interaksi, pohon sering kali berfungsi sebagai ruang sosial alami atau pusat komunitas manusia sejak zaman dahulu yang rindang dan sejuk sehingga menjadikan betah dalam jagongan.
Replika alun – alun, alun-alun bukan sekadar lapangan terbuka, melainkan simbol dari ruang publik demokratis di mana seluruh lapisan masyarakat melebur tanpa sekat sosial. Sejak zaman kerajaan hingga era modern, fungsinya sebagai titik kumpul masyarakat terus berevolusi. Terdapat makna dibalik penggunaan nama alun – alun . Kata Allaun atau Laun memiliki arti warna atau ragam. Ketika diulang menjadi kata majemuk, maknanya bergeser menjadi bermacam-macam warna atau beraneka ragam golongan. Istilah ini sengaja digunakan karena alun-alun dirancang sebagai ruang publik yang menjadi wadah bertemunya masyarakat dari berbagai strata sosial. Di tempat inilah warna-warni kehidupan melebur: tidak ada sekat antara raja, bangsawan, prajurit, pedagang, hingga rakyat jelata.
Selanjutnya, kami persilahkan teman-teman sekalian untuk menikmati berbagai rubriknya : mulai dari suara kami di tajuk rencana yang menyoroti fenomena phubbing, hingga cerita sejarah dari tokoh – tokoh budayawan Kediri.
Dalam pembuatan content kami tidak serta merta menulis atas opini pribadi penulis, lebih sekedar itu, kami mempraktikkan proses jurnalistik di tahap penulisan mading ini.
Sebelum eksekusi ide, pondok kami melakukan semacam tes seleksi bagi santri yag berminat lomba menulis jurnalistik. Nah, bagi yang lolos tahap seleksi ini, pondok lalu menyaring dan memilihat berdasarkan kriteria tulisan dan etika sehari-hari. Lalu dibentuklah tim mading ini. Para pendamping dan Pembina membagi tugas dimana santri putri bagian untuk penulisan content mading sedangkan santri putra bagian membangun konstruksi.
Setelah itu, proses pembuatan content dimulai. Berawal rapat redaksi; pengumpulan ide, mencari ide yang terkuat dilanjut, brainstorming gambaran konstruksi dan ide content mading.
Setelah rapat redaksi selesai, santri putra mulai membuat sketsa kontruksi dan eksekusi, sementara santri putri mulai rubrikasi dilanjut dengan reportase dan peliputan berita. Reportase dan liputan dengan meliput budayawan asal Kediri, Gus Barok dan komunitas pegiat Sejarah Kediri, komunitas PASAK. Selain itu kami juga liputan langsung ke wisata Kabupaten Kediri di Museum Sri Aji Jayabaya dan tempat-tempat masyarakat berkumpul.
Dilanjut dengan penulisan hasil reportase dan hasil berita, editing dan layouting. Kami sesekali difasilitasi oleh pendamping lomba kami untuk berkumpul menyatukan ide dan evaluasi.
Maskot
Setelah membahas konstruksi dan penulisan. Mari kita geser ke bagian Maskot. Maskot kali ini bernama “Si Piwung” yakni Si Emprit hobi srawung.
Kira – kira kenapa burung emprit yaa? Apa hubungannya dengan tema Srawung..?
Nah, berawal dari pengamatan lingkungan kami, dimana setiap sore setelah jamaah ashar, di halaman pondok depan masjid selalu ada kawanan burung emprit yang terbang bergerombol.
Hal ini kami korelasikan dengan sifat mutlak manusia, Dimana burung emprit merupakan makhluk komunal, menyimpan banyak nilai yang selaras dengan srawung. Mulai dari kebiasaannya hidup bersama, kekompakan dalam mencari makan, hingga keberadaan mereka yang membumi dengan segala kesederhanaanya. Seperti sifat mutlak manusia sebagai makhluk sosial, kekuatan gotong royong, hingga cerminan dari nilai andhap asor (kerendahan hati) di mana seseorang harus membuang jauh – jauh ego atau status sosialnya agar bisa membaur dengan siapa saja, layaknya kawanan emprit yang hidup berdampingan di alam.
……
Nah, kurang lebih seperti itulah gambaran keseluruhan dari mading kami. Akhirnya, lewat mading ini, harapan kami dapat mengajak generasi muda saat ini untuk kembali menumbuhkan nilai-nilai srawung dalam kehidupan sehari-hari, baik secara langsung di dunia nyata, maupun secara bijak di ruang digital. Sebab, seperti kata orang tua kita dulu: ‘ora srawung, uripmu suwung’, jika hidup tanpa srawung, maka hidup akan menjadi hampa.
0 Komentar