Tahukan kamu, ada satu penyakit yang dapat menjadi penghalang terciptanya srawung. Penyakit itu bisa saja menjangkiti siapa saja yang memegang gadget, seperti anak muda yang biasa nongkrong. Penyakit itu adalah phubbing.

Ilustrasi fenomena phubbing yang dapat merusak filosofi srawung.

Apa Itu Phubbing

Phubbing singkatan dari phone dan snubbing. Menurut laman wikipedia.com, phubbing adalah perilaku mengabaikan orang di sekitar atau lawan bicara secara langsung karena lebih fokus melihat layar ponsel atau gawai. Fenomena ini terjadi, ketika anak muda berkumpul, namun fisik mereka saja yang hadir sementara pikiran mereka hanyut dalam dunia digital, esensi mendalam dari srawung itu sendiri runtuh.

Mengapa Phubbing Merusak Filosofi Srawung?

Pertama, menghilangkan kehadiran utuh (kamanungsan). Srawung membutuhkan kehadiran jiwa dan raga. Phubbing menciptakan dinding pembatas yang membuat orang lain di sekitar merasa tidak dihargai, tidak dianggap, dan terabaikan.

Kedua, macetnya proses ngudar rasa (berbagi rasa). Saat seseorang sedang mencoba mencurahkan isi hati atau bertukar ide, respon yang lambat atau sekadar gumaman “oh… iya…” dari teman yang sibuk scrolling media sosial akan memutus kedekatan emosional.

Ketiga, komunikasi menjadi dangkal. Dialog yang seharusnya bisa membahas hal-hal mendalam atau melahirkan candaan spontan berubah menjadi obrolan basa-basi yang terputus-putus.

Yuk, simpan dulu gadget-nya. Melawan phubbing bukan berarti memusuhi teknologi, melainkan belajar menempatkan teknologi pada waktu yang tepat. Srawung tatap muka adalah momen mewah di era digital yang tidak boleh ditukar dengan sekadar guliran layar tanpa makna! Setuju kan? ****


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *