Hadir Yang Tertunda
oleh : Lintang
Apa arti menjadi populer di dunia maya, jika sekedar teman untuk bertukar cerita saja kau tidak punya? Apa arti kesenangan, jika di tengah keramaian kau justru merasa hampa? Dan apa arti kebersamaan, jika kau tak hadir sepenuhnya?

Di hadapan pendar biru layar kaca, seseorang adalah pusat dari semestanya sendiri. Ribuan pengikut mengamini setiap kabarnya, dan deretan emoji tawa menyambut hari-harinya tanpa jeda. Namun, ironi terbesar bersemayam di balik sunyinya ruang temaram yang menjadi latar belakangnya. Betapa seseorang bisa begitu gaduh di dunia maya, tetapi begitu senyap di dunia nyata. Di lorong-lorong sekolah, seseorang kerap berjalan bagai bayangan—hadir secara raga, namun terasing di antara riuh gelak tawa yang tercipta bebas di sekitarnya.
Namun, bagaimana jika suatu hari takdir memaksa jemarinya terlepas dari layar, memaksanya mendongak, dan menemukan bahwa hidup yang sesungguhnya sedang menunggu di luar sana?
Kediri, 07 Agustus 2026, pukul 05.30
Suara alarm pagi itu membangunkan seseorang dari tidurnya yang tak begitu nyenyak. Tishya, seorang remaja berusia 17 tahun yang baru saja memejamkan mata sekitar dua jam yang lalu, saat kentongan pos ronda berbunyi untuk membangunkan warga. Meski sebenarnya enggan, ia tak punya pilihan selain mematikan alarm dan beranjak dari tempat tidur sebelum sang ibu datang untuk memarahinya. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar mandi sembari mengecek ratusan notifikasi yang tertera di layar ponsel kesayangannya. Berganti duduk di meja makan hingga mengenakan sepatu, tetap dengan pandangan yang tak lepas dari benda pipih itu.
Di dunia maya, Tishya adalah sosok yang ‘hidup’ dan dipuja. Ribuan pengikut menghiasi akunnya, kolom komentar selalu penuh dengan sapaan ramah, dan ia dikenal sebagai pribadi yang asik untuk bertukar cerita. Namun sayangnya, itu semua hanyalah panggung virtual. Di balik layar ponsel yang berpendar, ia justru merasa menjadi orang paling kesepian di bumi. Ruang nyatanya hampa, dipenuhi dinding kecanggungan yang membuatnya merasa seperti hantu—berjalan di tengah keramaian tanpa benar-benar “hadir”.
Pukul 07.00, Tishya akhirnya tiba di halaman sekolah. Ia mengistirahatkan sejenak pandangannya dari layar, menatap sekeliling sembari menghela napas berat. “Betapa beruntung mereka yang mempunyai teman,” batinnya saat melihat halaman sekolah yang dipenuhi murid-murid berlalu-lalang. Ada yang berjalan bergerombol sembari bertukar tawa, ada yang berjalan berdua, ada pula yang tampak berjalan sendiri—namun tak lama kemudian, seseorang menyapanya dari kejauhan.
Beberapa kali Tishya mencoba memberanikan diri untuk menyapa dan bergabung dengan teman-temannya. Namun, karena terbiasa hidup di balik layar—di mana ia bisa berpikir lebih lama untuk merangkai kata-kata keren—di dunia nyata lidahnya justru kaku, salah tingkah, takut dianggap caper, dan akhirnya memilih untuk diam.
Namun, tanggal keberuntungan tidak pernah tertulis di kalender. Hari itu, semesta tampaknya mempunyai cara lain untuk menghargai jerih payahnya.
Saat jam pelajaran dimulai, sang guru tiba-tiba mengumumkan tugas diskusi kelompok secara mendadak. Sialnya, Tishya tergabung dalam satu kelompok bersama anak-anak yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Awalnya ia merasa tak nyaman, dan lebih memilih duduk di sudut meja, jemarinya refleks meraba ponsel di sakunya, bersiap untuk Kembali bersembunyi di balik layar. Suasana di kelompoknya sempat hening sesaat, hingga salah seorang teman sekelompoknya menoleh dan menatapnya secara langsung.
“Hei, kalau menurutmu gimana Shya? Ada ide bagus mungkin?” tanya temannya dengan senyum santai.
Tishya tertegun, refleks meletakkan ponselnya. Untuk sesaat lidahnya terasa kaku. Namun, melihat tatapan tulus dan menunggu dari teman-temannya, ia perlahan membuka mulut, mengalirkan ide-ide kreatif yang sedari tadi hanya beputar di kepalanya.
Di luar dugaan, tak ada satu pun cibiran atau rasa canggung yang ia takuti. Teman-teman satu kelompoknya justru mendengarkan dengan antusias.
“Wah… masuk nih idenya, keren parah!,” puji salah satu dari mereka sembari tertawa lepas.
Seorang teman lain mengangguk setuju lalu menimpali, “Iya, lho. Sering baca postingan sama tulisan kamu di medsos, makanya nggak heran kalau cara pandangmu emang beda dan keren banget.”
Suasana mendadak cair seketika. Tawa renyah pecah di meja itu. Tishya, yang biasanya kaku dan memilih bungkam, mendapati dirinya larut dalam obrolan hangat sembari berbagi cerita, tertawa tanpa penghalang, dan merasa benar-benar didengar. Tidak ada caption buatan atau kolom komentar berjarak, yang ada hanyalah tatapan mata dan suara tawa yang nyata.
Dalam debar hangat yang manjala di dadanya hari itu, Tishya akhirnya sadar. Selama ini yang keliru bukanlah orang-orang yang enggan menerimanya. Yang salah adalah dirinya sendiri yang terlampau takut untuk melangkah, bersembunyi di balik asumsi bahwa dunia nyata tidak menginginkannya, dan terlalu sibuk mendekap layar ponsel hingga lupa bahwa kehidupan yang sesungguhnya tengah menunggu untuk disambut dengan tangan terbuka. Pagi itu, di bawah langit Kediri yang cerah, Tishya menutup ponselnya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar “hadir”. Dan di pagi itu juga, di bawah langit yang sama, sebuah jiwa kembali menemukan apa yang sebenarnya ia butuhkan. ***
0 Komentar