Terikat dalam kebersamaan, bentuk srawung di Pesantren Al Matlab (Najwa, Al Matlab Media)

Pondok Pesantren Matlabus Salik (Al-Matlab). Adalah salah satu pondok pesantren yang berdiri di kota angin, Nganjuk, Jawa Timur. Tepatnya di desa Jogomerto, Kecamatan Tanjunganom. Pesantren Al-Matlab berupaya menjadi sebuah lembaga pendidikan yang membentuk karakter para santri untuk menjadi generasi yang berbudi pekerti dan berpengetahuan luas. 

Pesantren Al Matlab membuktikan bahwa belajar bukan sekedar pendidikan formal, melainkan sebagai tempat untuk menempa diri dengan life skiil (= kecakapan hidup) yang didapatkan secara alami melalui hubungan pertemanan serasa saudara. Seperti yang disampaikan Lian, salah seorang santriwati. “Seru sih… punya temen dari berbagai daerah, terus kita bisa tukar cerita dan pengalaman,” ujarnya.

Hubungan erat ini tidak terbentuk secara instan. Dulu, para santri bukanlah orang yang saling kenal, namun dengan adanya kemauan untuk membuka diri mereka dapat membaur menjadi satu meski datang dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang yang beragam. Mereka dipertemukan di bawah atap yang sama. Setiap harinya bertemu dan berinteraksi di lorong, asrama, teras kelas maupun teras masjid.

Interaksi santai seperti ini biasanya lanjut dengan kegiatan mayoran (= makan bersama dalam satu nampan dan rame-rame). Satu kalimat sederhana, yang bisa membuat santri seketika langsung bersemangat saat mendengarnya. Inilah yang dinamakan srawung ala santri. Di kehidupan Pondok Pesantren, ‘srawung’ sudah menjadi daily activity bagi seorang santri.

Dengan menonjolkan unggah-ungguh (tata krama) dalam kehidupan sehari-hari, para santri tidak hanya sekedar menjalin hubungan pertemanan. Para santri mempraktikkan langsung teori pembelajaran sebagai wujud penerapan kearifan lokal. Tanpa adanya unggah-ungguh, kebersamaan di pondok akan rentan memicu konflik dan perpecahan. Dengan tradisi mayoran melambangkan nilai kebersamaan, guyub rukun, kesederhanaan dan solidaritas.

Di sisi lain, tantangan perkembangan zaman tidak hanya menguji moral tetapi juga kesiapan masa depan. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat pondok pesantren Al-Matlab berusaha untuk membekali santri dengan kemampuan digital, misal dengan kegiatan membuat karya photografi dan videografi juga pembuatan web yang dibarengi dengan wawasan etika berdigital agar tidak lupa akan tata etika yang berlaku.  Teknologi merupakan alat untuk memperluas wawasan, unggah-ungguh berperan sebagai tameng untuk menahan guncangan konflik dan kebersamaan merupakan nilai yang tercipta dari rasa saling peduli satu sama lain. (Ara)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *