Evolusi Srawung

Tahukah kamu kalau tradisi srawung atau nongkrong dan kumpul bareng khas Nusantara sudah mengalami evolusi yang super estetik melintas zaman? Di era tradisional, srawung hidup lewat aksi gotong royong, ronda malam sambil menyeduh teh hangat, dan makan bersama (mayoran) di atas tikar yang kental dengan kehangatan tatap muka. Seiring berjalannya waktu, budaya ini bertransformasi ke masa transisi lewat keramaian pasar malam, hingga memasuki era digital awal tempat anak muda generasi terdahulu memadati warnet dan bertukar kabar via SMS untuk sekadar mencari ruang temu baru.

Memasuki era modern, generasi Z meredefinisi srawung menjadi lebih fleksibel dan hibrida. Kebersamaan kini tidak lagi terbatas oleh sekat geografis; kita bisa dengan santai nongkrong di coffee shop berkoneksi Wi-Fi cepat sambil tetap terhubung dengan komunitas global melalui media sosial. Budaya srawung terus berkembang hingga menembus batas realitas virtual (Metaverse) dan perangkat VR, di mana kita dapat berinteraksi, berkreasi, dan membangun koneksi digital secara real-time dalam wujud avatar tiga dimensi.

Kita ambil salah satu contohnya, live streaming sebagai cara gen Z untuk srawung. Bagi generasi muda, membuka siaran langsung meski sedang sendiri rasanya seperti sedang didampingi oleh seorang teman. Karena live streaming menghadirkan sensasi kehadiran bersama lewat kolom komentar yang dapat diakses siapapun yang menontonnya.

Kolom komentar bisa membuat seseorang menyapa, menanyakan kabar atau berdiskusi secara kritis. Live streaming juga diibaratkan dengan ‘pos ronda virtual’, karena hawa yang spontan dan ramai suasananya bisa mengalir begitu saja. Tren seperti study with me atau cooking live – bahkan saat seseorang yang menyalakan kamera ketika melangsungkan sebuah aktivitas, membuktikan bahwa manusia di era saat ini tetap ingin merasakan kebersamaan walau dengan media virtual.

Meski mediumnya bergeser dari pos ronda kayu menuju layar kaca dan dunia maya, esensi srawung bagi Gen Z tetaplah sama: sebuah pencarian koneksi yang otentik, rasa saling memiliki, dan ruang aman untuk berbagi cerita. Kemajuan teknologi justru makin memperkaya cara kita merawat empati dan solidaritas lokal, membuktikan bahwa jiwa gotong royong warisan leluhur akan selalu relevan dan hidup—baik di dunia nyata maupun di dunia maya. (Lintang dan Alimmah)

Kategori: Mading Wars XVIII

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *