Srawung: Kunci Keharmonisan Sosial Masyarakat Indonesia

Srawung yang selalu menjaga unggah unguh dan tepa selira.. (Al Matlab Media)

Kehidupan masyarakat kini, gawai dan teknologi sering kali mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Lantas di keseharian, apakah kita benar-benar saling terhubung atau hanya saling berdekatan?

Sebagai jawabannya, leluhur kita telah mewariskan sistem sosial yang sangat kuat, bukan sekadar aturan tertulis. Warisan leluhur itu adalah budaya srawung. Budaya yang telah ada dan mengakar kuat di masyarakat zaman dulu ini merawat silaturrahmi secara fisik dan batin melalui nilai-nilai srawung. Pertama, unggah-ungguh, yaitu kemampuan menempatkan diri dan menghormati orang lain melalui sikap maupun tutur kata. Kedua, tepa slira, yaitu belajar merasakan keadaan orang lain sebelum bertindak atau berbicara. Ketiga, gotong royong, yaitu kesediaan memikul pekerjaan dan tanggung jawab bersama. 

Ada pula nilai rukun dan tenggang rasa. Rukun bukan berarti semua orang harus selalu memiliki pendapat yang sama. Rukun berarti perbedaan dibicarakan dengan cara yang baik dan tidak merusak hubungan. Tenggang rasa membantu kita memahami bahwa tindakan atau perkataan kita dapat memengaruhi perasaan orang lain. 

Nilai-nilai itu penting karena hubungan yang erat tidak terbentuk hanya dengan sering bertemu. Hubungan menjadi kuat ketika orang merasa dihargai, dipercaya, dan tidak dibiarkan menghadapi kesulitan sendirian.

Pepatah Jawa mengatakan “Wong nek gak gelem srawung, uripne bakal suwung” (Orang kalau tidak mau bergaul, hidupnya akan terasa hampa). Dalam praktiknya hubungan sosial kita sebenarnya dapat terjalin hanya dengan kegiatan sederhana, yaitu saling menyapa dan jagongan santai di teras rumah. Ketika obrolan mulai mengalir, berbagi pengalaman, hingga curhat masalah hidup. Di sinilah unggah-ungguh (attitude) bermain peran sebagai rem emosional dalam menempatkan diri dengan menghormati orang lain melalui sikap maupun tutur kata. Walaupun suasananya santai, di sini anak muda tetap menjaga cara bicaranya kepada orang yang lebih tua.

Saat bercanda atau gojlokan (roasting), dengan memahami tepo seliro seseorang akan merasakan keadaan orang lain sebelum bertindak atau berbicara serta mengalihkan topik pembicaraan jika mulai menyinggung ranah pribadi atau sensitif agar tidak ada yang tersudut. Prinsip dasarnya adalah yen awakmu dilarani loro, ojo nglarani wong liya (= jika dirimu disakiti terasa sakit, jangan menyakiti orang lain). Tepo seliro juga terlihat dari hal-hal kecil seperti tidak menguasai tempat duduk saat ramai, tidak fokus dengan gawai sendiri saat berkumpul atau bahkan berbagi korek api dan rokok.

Puncaknya, ketika semua elemen masyarakat menerapkan nilai-nilai tepa selira dan unggah-ungguh maka terciptalah persatuan ( = nyawiji), rasa kepercayaan pun akan tumbuh secara alami. Pada akhirnya terciptalah rasa empati yang kuat untuk saling gotong royong dalam mencapai tujuan bersama tanpa adanya rasa pamrih. (Ara)

Kategori: Mading Wars XVIII

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *