Hadir Secara Nyata Tapi Jiwa Entah Dimana

Pernahkah kita mengalami ketika pergi bermain bersama teman-teman, justru pemandangan yang dilihat adalah mereka sibuk dengan handphone masing – masing dan jarinya terus scrolling? Setelah itu, ketika mengobrol, rasanya seperti sedang berbicara dengan tembok. Mau heran, mau protes tapi itulah fenomena yang terjadi sekarang. Seperti sudah menjadi habit atau budaya baru yang entah kapan dan darimana itu munculnya.
Yah, hidup dalam canggihnya teknologi justru menimbulkan paradoks yang membuat kita khawatir. Satu sisi, kita diberi kemudahan dalam setiap hal. Di sisi lainnya, justru bisa membuat kita larut ke dalamnya. Mengambil alih kendali kita. Dan tanpa kita sadari ada kesempatan atau sesuatu yang berharga yang harus kita pertaruhkan demi teknologi. Yah! interaksi nyata. Saat ini, mungkin yang dipikirkan oleh gen Z mempunyai banyak teman virtual, ribuan followers dan jutaan viewers merupakan sebuah kebanggan dan kesenangan tersendiri. Sebaliknya, justru yang terjadi mereka tidak mudah bersosial dengan lingkungan sekitarnya. Untuk sekedar bertukar kabar dan saling sapa saja tidak punya apalagi teman yang benar – benar hadir untuk sekedar mendengarkan ceritanya. Mereka merasakan kesepian di dunia nyata. Seperti ada sesuatu yang hilang. Hampa dan kosong. Mereka semua jatuh ke dalam loneliness epidemic.
Lucunya, lagi – lagi ketika mereka memutuskan untuk bertemu dengan teman, perhatian mereka tetap tertuju pada gawai masing – masing. Nama keren juga populer untuk fenomena ini disebut dengan, phubbing. Di saat kita sudah meluangkan waktu untuk bertemu langsung, membuat janji, esensi kebersamaannya hilang begitu saja saat handphone sudah ada di genggaman tangan. Pertemuan yang bisa digunakan untuk tertawa bersama, berdiskusi, curhat dan menghabiskan waktu kebersamaan justru sia – sia hanya karena benda kecil dan tipis itu.
Kita akhirnya hanya memenuhi absensi hadir yang sekedar formalitas, memaksakan kolom terisi dengan tanda ‘.’, sementara pikiran dan jiwa kita sudah masuk ke dalam dunia maya dengan algoritma yang kita bentuk setiap harinya. Memang, kita tidak bisa menghindari digitalisasi yang kian berkembang, namun bukankah itu seharusnya bisa membantu kita? menjadi jembatan untuk melestarikan dan memperkuat akar budaya, bukan justru menggantikannya?
Pemikiran seperti ini seharusnya menjadi refleksi penting bagi kita semua untuk mengevaluasi, sudahkah kita benar – benar hadir atau jangan – jangan kita juga perlahan menjadi bagian dari mereka yang hanya sekedar hadir secara fisik?
Padahal, jika kita mau menengok kembali tradisi lokal masyarakat Indonesia, ada satu kebiasaan leluhur kita yang juga menjadi identitas diri masyarakat lokal Indonesia. Orang dulu menyebutnya dengan ‘srawung’. Srawung bukan hanya sekedar duduk bersama menghabiskan secangkir kopi dengan membahas topik sana sini. Lebih dari itu, srawung menuntut kehadiran secara utuh, menatap lawan bicara, menangkap setiap detik yang terjadi, mulai dari tawa yang tulus, perubahan nada suara, ekspresi dan emosi yang diutarakan di setiap kata yang diucapkan dan meresapi kehangatan obrolan yang mengalir apa adanya. Srawung menyimpan nilai – nilai kerukunan, kebersamaan, empati, kepekaan sosial dan interaksi hangat di dalamnya. Nilai srawung mengajarkan kita tentang arti kehadiran bukan sekedar hadir di tempat yang sama, namun juga memusatkan seluruh perhatian kepada lawan bicara kita.
Jika teknologi mulai menunjukan pesatnya laju pertumbuhannya, di sisi lain yang juga mulai menggeser ruang srawung, lantas ke arah mana sebenarnya arus zaman ini sedang membawa kita? Maka, mari jadikan teknologi sebagai jembatan, bukan sebagai tembok yang memisahkan. Karena secanggih apapun teknologi, tidak akan pernah menggantikan hangatnya interaksi nyata ‘srawung’. Mengesampingkan gawai sejenak saat duduk bersama bukanlah hal yang ketinggalan zaman, melainkan wujud penghormatan tertinggi bagi lawan bicara—agar teknologi yang mendekatkan yang jauh tidak justru menjauhkan mereka yang sudah ada di depan mata. Perhatian yang tulus dan percakapan yang sederhana tetap memiliki makna penting dalam kehidupan sehari-hari. (Alimmah)
0 Komentar